BdhR 28

Selasa, 11 Oktober 2011

Buah dari Usaha

                 Saya beserta teman-teman akan menempuh ujian nasional. Ujian yang menjadi momok menakutkan bagi siswa-siswi semester terakhir. Menurut kami ujian nasional adalah ujian yang menakutkan. Kalau kita gagal akan membuat rendah diri dan dicap sebagai anak bodoh. Gagal dalam ujian nasional seakan dunia mau kiamat.

            Pada saat itu kami merasa, “mengapa kita tidak usaha berdoa mumpung inikan bulan suci bulan penuh berkah?” kata salah seorang teman ku kebetulan pada saat bulan Ramadhan. Saya dan teman-teman sudah bersiap untuk berdoa agar dimudahkan dalam mengerjakan soal ujian nasional dan dapat lulus 100%. Pada bulan ramadhan kegiatan les untuk menunjang dalam mengerjakan soal ujian nasional terhenti. Kami bergegas dan merealisasikan ucapan teman kami. Ketika itu kami merancang waktu untuk mengadakan sebuah doa bersama dan kajian rohani sebagai pendongkrak semangat bagi para siswa. Doa bersama dan kajian rohani pun dilaksanakan tanggal 06 September 2009 pukul 07:30. Acara pertama kami berdoa membaca ayat suci Al Qur’an. Pembacaan dilakukan secara hikmad dengan penuh keikhlasan dan mengharap ridho Allah SWT. Setelah pembacaan ayat suci Al Qur’an, kami pun mendapatkan kajian rohani. Pada saat itu yang mengisi kajian rohani adalah Pak Guru Kami. Pak Guru berpesan “Jika kalian ingin berhasil maka fokus dan terus berkonsentrasi untuk mewujudkan keinginan”. Dalam suasana hening menggemalah suara Pak Guru kami yang jelas, lantang dan penuh semangat menyuntikkan motivasi untuk kami. Beliau menambahkan “Janganlah kamu bermain HP pada saat belajar sebab dengan memainkan HP di sela-sela belajar maka akan menghilangkan fokus dan konsentrasi, nyatakanlah perang terhadap HP, bayangkan jika HP itu adalah setan, setelah membayangkan maka hindarilah dari HP yang mampu menyesatkan kita”.
            Tak terasa sudah di penghujung bulan Ramadhan kemudian  aku pun merenung apakah saya mampu lulus ujian nasional. Di dalam pemikiran dan hati kecil saya mengatakan “Aku Pasti Bisa”. Pada selesai sholat idul fitri 1430 H, saya memanjatkan doa semoga saya beserta teman mampu lulus dalam ujian nasional.
            Ketika sudah tidak berada pada bulan Ramadhan kami pun memulai rutinitas seperti biasa. Saya dan teman-teman belajar penuh waktu di kelas dari sekolah kami. Belajar dan terus belajar kata itu selalu terbersit di telinga para siswa-siswi kelas XII. Sesudah belajar di kelas kami ikut les yang diajarkan oleh guru kami tercinta yang tanpa lelah mendidik kami. Kami dari jurusan IPS dan guru kami membuat singkatan IPS adalah Ilmu Paling Santai melangkah dengan pasti, prinsip itu kami pegang teguh dan sebagai motivasi. Sering orang memandang jurusan IPS dengan sebelah mata, tetapi semangat membara kami anak IPS tetap tak akan pudar.
             Dengan les kami mendapat tambahan ilmu dengan berlatih soal-soal ujian tahun lalu, serta mengupas soal-soal prediksi di buku-buku. Setelah les dari para guru. Kami ikut bimbingan belajar untuk mempersiapkan ujian masuk universitas negeri. Setiap hari selalu dijejali materi ujian yang tanpa lelah menghujam pikiran dan menusuk mental kami.
            Hari demi hari terlewatkan dengan masih tertatih dalam menghadapi ujian. Tapi tekad kami terpecut dan kami pun siap untuk menghadapi ujian nasional yang konon ujian terberat dalam bangku sekolah.
            Hari pelaksanaan ujian nasional tanggal 22-26 Maret 2010 sudah didepan mata. Suasana riuh dan gelisah nampak jelas diraut muka para siswa. Siswa pun berangkat dari rumah pagi-pagi, takut kalau datang terlambat. Dinginnya pagi dan tertutup oleh kabut tebal ditembus oleh kami untuk menaklukkan soal ujian nasional. Sesampainya di sekolah saya melihat teman-teman sudah memadati dan sedang membaca buku pelajaran di depan ruang kelas yang nantinya untuk akan diujikan.
            Nampak jelas raut muka penuh bimbang dan ketidakpastian dalam menempuh ujian. Saya datang merasa hari itu seperti hari biasa tanpa ada raut muka tegang melainkan pasrah penuh ikhlas. Pasalnya saya melakukan dengan seimbang antara ibadah dan belajar. Setiap sholat saya mengusahakan berdzikir sekenanya, tidak usahlah yang susah-susah. Setelah berdzikir saya menambah sholat sunnah seperti sholat dhuha dan sholat tahajud kemudian ditambah membaca ayat suci Al Qur’an, ketika kita membaca Al Qur’an maka keinginan kita Insya Allah akan terkabul. Selesai membaca Al Qur’an saya pun membaca surat Al A’laa, dimana kita membacanya insya Allah akan membawa keberuntungan. Tidak hanya berdoa saja tetapi harus dibarengi dengan belajar. Cara belajar saya, cukup sederhana membaca kembali materi yang sudah diberikan dan membaca materi yang akan disampaikan besok tentunya dengan berlatih soal-soal ujian. Menurut saya tidak usahlah belajar terlalu lama, lebih baik belajar sebentar tetapi rutin dan berkelanjutan.
            Hari pertama hingga hari terakhir kami kerjakan dengan baik kecuali hari kamis pada saat mengerjakan pelajaran Geografi, terkendala karena kurang belajar melainkan kami terpaku pada kisi-kisi yang diberikan oleh guru. Semua teman berkata ujian ini dirasa lebih mudah dibanding dengan latihan ujian yang diberikan oleh sekolah untuk mengukur sejauh mana tingkat belajar siswa-siswanya. Ujian pun resmi bergulir dan berakhir, sekarang tinggal satu ujian lagi yaitu ujian masuk perguruan tinggi negeri. Saya mendaftar satu perguruan tinggi negeri. Sebelum mengerjakan ujian nasional pola pikir saya ujian nasional lebih mudah dibanding ujian masuk perguruan tinggi negeri. Ujian masuk perguruan tinggi dilakukan setelah ujian nasional tepatnya tanggal 04 April 2010. Ujian yang dilakukan di Semarang. Ujian dirasa cukup berat karena siswa yang ikut ujian dari berbagai kota di Indonesia. Saya mulai tumbuh rasa rendah diri di lokasi ujian, tapi kemudian aku tanamkan rasa “akulah yang terhebat, aku mempunyai kecerdasan diatas rata-rata” narsis boleh dilakukan untuk menumbuhkan rasa kuatku. Sebelum ujian saya memohon kepada Allah inilah yang terakhir saya pun tak mau terkekang dengan buku, saya ingin bebas. Mengerjakan santai dan cermat itulah trik yang saya terapkan, kerjakan yang mudah sebelum mengerjakan yang sulit. Sesudah berakhir ujian saya pasrah dan menunggu dengan ikhlas mengharap diberikan hasil yang terbaik.
            Tanggal 10 April 2010 pagi, ujian masuk perguruan tinggi negeri hasilnya pun diketahui pagi itu. Saudara meneleponku untuk menanyakan berapa nomor ujiannya. Saya menjawab sekaligus memberikan nomor ujian kepada saudaraku untuk melihat secara online apakah saya diterima di perguruan tinggi itu atau tidak. Menunggu penuh dengan harap dan kecemasan, untuk mengetahuinya pun membutuhkan waktu yang lama. Saya mulai cemas dan panik. Tak lama kemudiaan dering HP berbunyi pertanda jawaban dari saudaraku. Dia berkata “Diterima sebagai calon mahasiswa baru”. Kemudian muncul spekulasi mengapa sebagai calon kenapa tidak sebagai mahasiswa?  lalu kakak saya menjelaskan “kamu sudah diterima, alasan calon karena kamu belum daftar ulang”. Tersentak, ternganga hati ini mendengar telah diterima di universitas negeri. Tanpa berpikir panjang saya melakukan syujud syukur atas rahmat dan karunia terbesar yang diberikan Allah SWT di pagi itu. Pagi yang dingin berubah menjadi pagi yang ceria, berangkat sekolah untuk melanjutkan ujian sekolah pun riang dan penuh dengan kesenangan.
            Setelah semua prosesi dari ujian nasional sampai ujian sekolah terselesaikan maka tibalah hari pengumuman ujian nasional tanggal 26 April 2010 antusiasme para siswa pun besar. Raut wajah para siswa  takut dan gundah. Tepat pukul 12:00 semua orang tua/ wali disuruh masuk ke kelas untuk mengambil kartu kelulusan. Suasana mengharu biru ketika salah seorang teman dinyatakan lulus. Aku mulai cemas sudah siang ibuku belum juga datang padahal bapak/ibu temanku sudah pulang. Detik terakhir ibuku datang dengan raut wajah yang cemas pula. Dengan berpakaian yang sederhana ibuku masuk ke kelas dan mengambil kartu kelulusan yang dibalut amplop putih bertuliskan namaku. Raut muka yang cemas berubah menjadi senyum bahagia ketika anaknya sudah lulus dari bangku SMA. Aku pun merasa lengkap karena semua telah lulus. Dalam ujian nasional pun aku mendapat nilai yang baik. Mengucap Alhamdulillah diutamakan ketika memegang amplop kelulusan yang menyatakan aku resmi lulus dari bangku SMA. Saya dan teman-teman merasa lega karena kami lulus. Alhamdulillah kita sontak mengucap bersamaan.
            Kisah ini mengajarkan bahwa kita harus usaha dan berdoa kalau kita berdoa saja itu mustahil tetapi kalau kita hanya berusaha tanpa berdoa dinamakan sombong, tetapi kalau kita berusaha dan berdoa semua itu menjadi mudah dan berhasil. Di dalam kesulitan pasti ada kemudahan. Lakukanlah sesuatu dengan fokus dan konsentrasi agar tujuan kita lurus tanpa adanya halangan yang melintang. Ketika dihadapkan masalah hidup hidupkanlah pelita hati kita untuk menunjukkan jalan yang lurus agar tidak tersesat dan melenceng dari apa yang kita kehendaki. Semoga dengan ini dapat menginspirasi bahwa ketika kita melakukan kegiatan hendaklah fokus dan sungguh-sungguh. Untuk saudara-saudara yang akan menghadapi ujian nasional janganlah takut maju terus pantang mundur. Kita bandingkan prosentase kelulusan dengan prosentase ketidak lulusan lebih banyak prosentase lulus daripada yang tidak lulus jadi, hal ini mengindikasikan bahwa ujian nasional ujian yang mudah. Dan semoga langkah kecil ini dinilai sebagai ibadah. Amin, teruslah semangat kawan, (Yakinlah dengan Usaha)    

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review